Legenda Asal-Usul Gajah Mada dari Lamongan

LEGENDA ASAL-USUL GAJAH MADA DARI LAMONGAN

Oleh: Har [www.haarrr.wordpress.com]

gajah mada

PROLOG:

Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber. Alasan penggunaan judul ‘legenda’ sendiri tak lepas dari kenyataan bahwa asal-usul Gajah Mada (1299-1364) sampai detik ini masih simpang-siur. Sebagian besar penelusuran asal-asul Gajah Mada bersumber pada cerita rakyat (folklore) dan pengkaitan nama dengan sejarah lokalitas/etinisitas daerah tertentu. Belum ada bukti otentik yang bisa menjelaskan darimana sebenarnya Gajah Mada. Dan karena masih sebatas dari mulut ke mulut (tutur-tinular), maka subyektifitas pun tak terhindarkan dalam setiap upaya menyingkap sejarah Gajah Mada.

Tapi, demikianlah Sejarah. Akan selalu ada bagian yang dipenuhi ambiguitas dan selalu terkait dengan sudut kepentingan kekuasaan pada masa tersebut. Ada faktor-faktor yang membutuhkan legitimasi dan justifikasi pada keberlangsungan kekuasaan. Dan, itu bisa diraih dengan pengkultusan dan senses of curiosity yang ujungnya adalah untuk mendapatkan keabsahan kekuasaan (power legitimacy) serta kebanggaan identitas sosial (the pride of social identity) pada tokoh bersangkutan.

Sejarah Indonesia, seperti halnya sejarah bangsa-bangsa lain, memiliki bab-bab yang ‘samar’ dan multi interpretasi. Dimulai dari raja-raja nusantara, zaman pergerakan, masa kemerdakaan, orde lama, orde baru hingga dekade sekarang ini, sebagian besar mempunyai babakan yang memunculkan heterogenitas opini dan bahkan kontroversi. Beberapa di antaranya sebagai contoh, ada peranan Demak dalam pengambilalihan kekuasaan imperium Majapahit. Demikian halnya dengan pembentukan dinasti Sutawijaya yang menggerogoti Demak dan memunculkan trah Mataram. Belum lagi ditinjau dari segi sosial religi berkaitan dengan penyebaran Islam dan memudarnya kekuasaan Hindu.

Pada konteks zaman pergerakan nasional, multi interpretasi terhadap latar belakang perjuangan melawan kolonialis pun beragam. Hal inilah yang memunculkan keberagaman definisi; pejuang ataukah pemberontak, pahlawan ataukah penghianat. Sebuah contoh sederhana, sejarah perjuangan rakyat Sulawesi Selatan. Sampai detik ini, masih sering terjadi perdebatan dalam memandang sosok Aru Palakka (Arung Palakka) berkaitan dengan perlawanan Sultan Hasanuddin terhadap Belanda. Di Buku Sejarah pelajaran sekolah, sebagian besar tahu bahwa Sultan Hasanuddin adalah pahlawan nasional sementara Aru Palakka bukan. Standar bakunya ialah, siapapun yang melawan Belanda, dia adalah pahlawan. Bagi sebagian orang yang paham kultur Bugis – Makassar, tidak segampang itu menarik garis dikotomi antara pahlawan dan penghianat untuk dua tokoh tersebut. Ada faktor histeriografi, etnisitas dan power politik yang ikut melatarbelakangi.

Tapi, sekali lagi, itulah sejarah.

Pada dimensi tertentu, pasti melahirkan bermacam analisa dan perdebatan. Apalagi, dengan rentang waktu yang jauh ke belakang, berjarak sekian generasi. Sementara yang ‘baru-baru’ saja sering tak bisa diungkap dengan gamblang. Beberapa pemberontakan pasca kemerdekaan, Supersemar, kasus-kasus masa reformasi, penculikan, dan serentetan peristiwa konflik horizontal, adalah contoh betapa kompleknya menyusun sebuah catatan sejarah.

Meski demikian, satu hal yang pasti: sejarah adalah catatan berdasar fakta dan keobyektifan. Kalaupun dari keobyektifan tersebut lantas melahirkan multi interpretasi dan kontroversi, sah-sah saja. Adalah wajar muncul perdebatan. Yang tak wajar ialah, jika dalam proses pengambilan kesimpulan, ada upaya rekayasa, pembelokan, bahkan penghilangan fakta sejarah. Sejarah dicatat, demi pembentukan bangsa yang cerdas dan bukan sebaliknya: bangsa bebek.

Tulisan ini, sekali lagi, ialah legenda. Kalaupun kemudian ada langkah penelitian berkenaan legenda Gajah Mada ini, tentu sudah lain soal. Yang jelas, legenda ini hidup di masyarakat tertentu, titur-tinular dari generasi ke generasi.

Dalam perspektif ke-Indonesiaan, Gajah Mada juga tidak bisa dipandang sebagai milik wilayah, etnis, atau apalagi orang tertentu. Sosoknya yang memang pernah eksis di percaturan politik global abad ke-13, sudah terintegral dengan sejarah nusantara, sehingga tentu saja sudah menjadi milik Indonesia. Sejarah tersebut bisa juga menjadi inspirasi di era ke-kinian dalam memajukan bangsa ini, semacam discovering in the old; revitalizing in the future.

Tulisan berikut terdiri dari dua bagian: (1) Legenda Gajah Mada dari Lamongan, (2) Beberapa Pendapat dan Dugaan lain berkaitan Asal-Usul Gajah Mada, di antaranya: Dari Sumatera, Bali, Kalimantan, NTB dan Mongol.

Beberapa referensi yang jadi sumber tulisan ini:

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Gajah_Mada
  2. http://tempointeraktif.com
  3. http://kaskus.us
  4. http://lamongan.go.id
  5. http://forumbebas.com
  6. http://igardu.com
  7. http://panjiwinoto.co.cc
  8. http://amongraga.multiply.com
  9. http://unggulsetiadi.blogspot.com
  10. http://nursatwika.wordpress.com
  11. http://haarrr.wordpress.com
  12. Dan beberapa sumber lain yang tak sempat disebutkan.

Catatan: untuk download tulisan ini (versi pdf) , silahkan klik di sini>>>…

Terima Kasih

*

(1) LEGENDA ASAL-USUL GAJAH MADA DARI LAMONGAN

patung gajah madaDesa Cancing – Gunung Ratu terletak di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, berada di wilayah Kecamatan Ngimbang, Lamongan. Secara Geografis, daerah tersebut berbatasan dengan Kabupaten Jombang dan Mojokerto (tempat pusat kerajaan Majapahit).

Penulis sendiri kebetulan dilahirkan di Desa Sekidang, sekitar 10 km sebelah utara Gunung Ratu. Sewaktu kecil, saat itu Desa Sekidang belum ‘digusur’ menjadi areal Waduk Gondang, penulis sedikit banyak mendengar cerita rakyat tentang Gajah Mada. Beberapa diantaranya Tersingkirnya Dewi Andongsari (Ibu Gajah Mada) dari Keraton Majapahit, Peristiwa Kucing dan Ular, Tempat Joko Modo (Gajah Mada) mengembala kerbau (angon kebo), dan beberapa kisah masa kecil Joko Modo. Waktu SD dulu, lebih dari 20 tahun yang lalu, selain menggembala sapi dan cari kayu bakar, penulis sering ikut kegiatan Pramuka. Yang paling berkesan ialah saat Penjelajahan. Sekali waktu, rute penjelajahan yaitu Desa Sekidang, Jegreg, Plapak dan Cancing (Gunung Ratu).

Untuk menuju ke makam tersebut, harus melewati tangga undakan. Saat itu, saya dan beberapa teman menghitung berapa undakan yang dilewati. Hasilnya, bervariasi. Sampai di atas, saya melihat makam Dewi Andongsari kelihatan sering diziarahi orang, nampak dari banyaknya taburan bunga. Hal yang sama juga nampak ditempat Kucing dikubur—yang ditandai dengan bongkahan batu. Menurut cerita yang beredar, situs pemakaman tersebut sering disalahgunakan, misal mencari ilmu atau juga ngalap berkah.

Foto_penunjuk jalan ke gunung ratu

Foto_penunjuk jalan ke gunung ratu

Kondisi pemakaman saat ini, jelas jauh berbeda. Lokasi tersebut sudah direhab oleh Pemkab Lamongan dan difungsikan sebagai Peninggalan Situs Bersejarah sekaligus tempat Wisata Sejarah. Setiap hari tempat tersebut dikelola dan dirawat oleh Mbah Sulaiman, seorang juru kunci dari Makam tersebut. Menurut Mbah Sulaiman inilah bukti fisik akan keberadaan asal usul Gajah Mada. Gunung atau biasa juga disebut bukit Ratu, dulunya merupakan petilasan dari Dewi Andong Sari yang diusir dari Majapahit karena iri hati dari permaisuri Dara Petak dan Dara Jingga karena dikhawatirkan memiliki seorang putra. Di bukit inilah tempat Dewi Andongsari menjalani hari-harinya sampai akhirnya melahirkan Joko Modo (Gajah Mada).

Kisah berawal ketika pada suatu hari Desa Cancing kedatangan sekelompok prajurit Majapahit yang sedang mengiringkan istri selir Raden Wijaya yang sedang mengandung.  Sekelompok prajurit tersebut mendapat tugas rahasia untuk menyingkirkan (mungkin membunuh) Dewi Andong Sari, tapi karena suatu hal Dewi Andong Sari tidak dibunuh melainkan hanya disembunyikan di desa Cancing yang terletak di dalam hutan jauh dari pusat pemerintahan majapahit (± 35 km arah barat laut dari Trowulan). Jalur desa tersebut dekat dengan jalur perjalanan Majapahit-Kadipaten Tuban.

Saat itu, desa tersebut dipimpin oleh Ki Gede Sidowayah yang juga mempunyai keahlian membuat senjata pusaka (Mpu).

Setelah usia kandungan cukup maka lahirlah bayi laki-laki, tapi sayang Dewi Andong Sari tidak berumur panjang. Pada saat putranya masih kecil ia meninggal dunia dan dimakamkan di tempat tersembunyi yaitu di atas bukit dan di tengah rimbunnya hutan. Bukit itulah yang kemudian lebih dikenal dengan nama Gunung Ratu.

Foto_ jalan (tangga berundak) ke gunung ratu_cancing

Foto_ jalan (tangga berundak) ke gunung ratu_cancing

Pernah pada suatu ketika, saat Gajah Mada masih bayi, Dewi Andongsari turun dari bukit hendak mengambil air di telaga (sendang) yang terletak di bawah bukit. Gajah Mada ditinggal sendirian, hanya ditemani kucing setia milik Dewi Andongsari. Pada saat itulah seekor ular hendak mematok Gajah Mada. Kucing milik Dewi Andongsari menghalanginya sehingga terjadi perkelahian. Si kucing berhasil menggigit ular hingga mati. Beberapa saat kemudian, Dewi Andongsari datang dan langsung melihat kucing yang mulutnya penuh darah. Dewi Andongsari menyangka bahwa kucing tersebut telah menggigit Gajah Mada. Kucing itu pun kemudian dia pukul. Tapi Dewi Andongsari pun kemudian tersadar ketika tak jauh dari bayinya, terlihat bangkai ular. Dewi Andongsari menyesal bukan main, apalagi tak lama kemudian kucing itupun mati.

Sampai sekarang keberadaan telaga tersebut masih ada, demikian juga dengan tempat dikuburkannya kucing tersebut.

Tak lama setelah peristiwa itu, Dewi Andongsari pun meninggal. Oleh warga desa Cancing jenazahnya dimakamkan di bukit tersebut, tak jauh dari kuburan kucing kesayangannya. Bayi Gajah Mada sendiri kemudian diambil oleh Ki Gede Sidowayah…

Ki Gede Sidowayah tidak mempunyai istri. Dia merasa kasihan dan khawatir bayi tersebut tidak terurus dengan baik. Oleh karena itu, bayi tersebut diserahkan pada adik perempuannya (janda Wara Wuri) yang tinggal di desa Modo. Bayi laki-laki tersebut tumbuh sehat dan cerdas yang kemudian dipanggil dengan nama Joko Modo (pemuda dari Modo).

Foto_lokasi area makam dewi andongsari

Foto_lokasi area makam dewi andongsari

Seperti pemuda desa pada umumnya, Joko Modo pun ikut bekerja membantu orang tua angkatnya yaitu sebagai pengembala kerbau. Karena kecakapanya Joko Modo oleh sesama teman penggembala dianggap sebagai pemimpin. Meskipun hanya sebagai pemimpin sekelompok anak gembala, ternyata bakat kepemimpinannya mulai nampak.

Untuk memudahkan mengawasi kerbau-kerbau yang sedang digembala tersebut, Joko Modo dan kawan-kawan gembala lainnya naik di atas bukit kecil sehingga jarak pandangnya menjadi jauh dan luas. Bukit tersebut sampai sekarang masih ada dan oleh masyarakat setempat dinamakan Sitinggil (Siti= tanah, Inggil= tinggi) artinya tanah yang tinggi.

Pada saat Joko Modo diatas bukit sambil mengawasi kerbau-kerbaunya itu tidak sengaja ia pun kadang-kadang melihat iring-iringan prajurit Majapahit menuju Tuban atau sebaliknya dari Tuban menuju majapahit. Hal ini terjadi karena letak Modo memang berada diantara Majapahit dan Tuban.

Dari seringnya melihat iring-iringan prajurit Majapahit yang gagah-gagah tersebut membuat hati Joko Modo tertarik, kelak suatu saat ia ingin menjadi prajurit Majapahit juga.

Ki Gede Sidowayah sendiri diberi hadiah tanah perdikan di Songgoriti Malang. Hadiah tersebut nampaknya sebagai penghargaan pada Ki Gede yang diam-diam berhasil menyelamatkan Dewi Andongsari dan memelihara bayinya. Ki Gede Sidowayah tidak lupa mengajak pula Joko Modo ke Songgoriti, dengan pertimbangan agar jiwa, sikap, serta cara berpikir Joko Modo yang cerdas dan cakap bisa berkembang dengan baik. Hal ini dimungkinkan karena Songgoriti daerahnya lebih subur dan makmur jika dibandingkan dengan Modo atau Ngimbang Lamongan yang letaknya jauh di dalam lebatnya hutan belantara.

foto_makam dewi andongsari di gunung ratu

foto_makam dewi andongsari di gunung ratu

Karena kecakapan dan kepandaiannya tersebut dan didukung oleh pengaruh Ayah angkatnya yaitu Ki Gede Sidowayah maka Joko Modo akhirnya tercapai cita-citanya yaitu menjadi prajurit Majapahit, yang kelak Kemudian kariernya terus menanjak sehingga menjadi Patih Gajah Mada, seorang tokoh besar di Kerajaan Majapahit.

*

Berikut ini analisa seputar Legenda Gajah Mada dari Lamongan:

1. Peristiwa penculikan Dewi Andong sari dari Keraton Majapahit (1299 M)

Adanya peristiwa rencana pembunuhan terhadap istri Selir Raden Wijaya yang sedang mengandung yaitu Dewi Andong Sari sangat mungkin terjadi atas kehendak Putri Indreswari yaitu Dara Petak yang berasal dari Melayu.

Dara Petak adalah Putri Melayu yang datang ke Majapahit bukan atas kehendak sendiri, melainkan dibawa oleh Kebo Anabang (Pemimpin ekspedisi Pamalayu) sebagai putri rampasan sebab negerinya ditaklukkan oleh Singosari / Majapahit. Ketika ia diperistri oleh Raden Wijaya tentu bukan bukan atas dasar cinta tapi karena terpaksa karena itu punya gagasan dalam hati yaitu Melayu bisa tunduk pada Majapahit tapi keturunan Melayu yaitu anaknya suatu saat harus jadi Raja Majapahit.

Ketika ia melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Kalagemet (Jayanegara) tahun 1294 M. Ia sangat senang, sebab kedua anak Raden Wijaya permaisuri yang lain semuanya wanita, yaitu : Diyah Tribhuana Tungga Dewi dan Diyah Wiyat Sri Raja Dewi. Dengan demikian cita-citanya pasti terwujud, sebab sepeninggal Raden Wijaya tahta Kerajaan pasti jatuh ke tangan anaknya.

Tapi perasaan gembira itu berubah jadi cemas setelah tahu istri Selir Raden Wijaya yaitu Dewi Andong Sari teryata hamil, jika nanti Dewi Andong Sari melahirkan anak laki-laki tentu akan jadi Bantu sandungan bagi cita-citanya. Karena itu sebelum Dewi Andong Sari melahirkan ia harus segera segera dilenyapkan.

2. Ditinjau dari segi geografis

Posisi Desa Cancing, Ngimbang dengan Trowulan (pusat kerajaan Majapahit) jika ditarik garis lurus 35 km, suatu jarak yang masuk akal sebagai jalur pelarian untuk tempat sembunyinya Dewi Andong sari, apalagi Cancing berada di dalam lebatnya hutan. Demikian juga dengan letak Modo (sekarang Kec. Modo). Diceritakan, Joko Modo sering melihat iring-iringan prajurit Majapahit menuju Tuban atau sebaliknya dari Tuban menuju Majapahit, itu sangat masuk akal sebab Modo memang terletak di antara jalur Majapahit dengan Tuban.

3. Ditinjau dari segi politik

Pada saat pemberontakan Ra Kuti (1319) Gajah Mada yang saat itu menjadi kepala pasukan Bhayangkara menyelamatkan Raja Jaya Negara dengan sembunyi di Desa Badander. Para sejarawan banyak yang menduka bahwa Badander yang dimaksud itu adalah Dander di Bojongoro, padahal tidak. Sebab ada lagi nama Desa yang namanya persis sepert yang disebut dalam Negara Kertagama yaitu Badander (buah dander) yang berada di kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang.

Jarak antara Desa Badander dengan Cancing, Ngimbang hanya 10 km, sedang jarak Badander Trowulan 25 km, sehingga sangat mungkin yang dimaksud Desa Badander tempat persembunyian Raja jayanegara kerena adanya pemberotakan Rakuti adalah Badander tersebut (bukan Dander Bojonegoro).

Suatu kebiasaan, jika ada kerusuhan di ibu koa maka para pembesar ibu kota berusaha menyelamatan diri ke Daerah asalnya yaitu daerah dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Dengan pertimbangan itu, tentu mendapat dukungan dan perlindungan dari masyarakat sekitarnya, di samping juga menguasai medan sehingga banyak membantu untuk perjuangan berikutnya.

Demikian juga halnya dengan Gajah Mada, kemungkinan besar benarya ia tidak senaja sembunyi di Desa Badander melainkan ke Desa Cancng (Ngimbang) tempat ia berasal. Tapi karena kondisinya pada saat itu tidak memungkinkan disamping letak Badander dengan Ngimbang sangat dekat apalagi adanya jaminan perlindungan dari Ki Buyut Badander, maka dipilihnya Badander sebagai tempat persembunyian sementara sambil menyusun siasat untuk merebut kembali tahta kerajaan dari pemberontak Ra Kuti.

4. Ki Gede Sidowayah mendapat hadiah tanah perdikan di Songgoriti Malang.

Dalam sejarah adalah hal yang wajar jika seseorang mendapat hadiah tanah perdikan dari Raja sebagai imbalan karena orang tersebut berjasa besar pada Raja atau Negara. Demikian juga halnya dengan Ki Gede Sidowayah yang mendapat tanah perdikan di Singgoriti.

Ada dua kemungkinan Ki Gede Sidowayah mendapat tanah perdikan di Songgoriti yaitu :

(a). Sebagai seorang Mpu mungkin Ki Gede Sidowayah pernah membuat sejenis pusaka yang ampuh untuk Raden Wijaya. Tapi kemungkinan ini lemah, sebab diantara banyak pusaka peninggalan Majapahit tdak dikenal buatan Mpu Sidowayah. Disamping itu dalam sejarah belum pernah ada seseorang mendapat hadiah tanah perdikan hanya karena berjasa membuat pusaka untuk Raja.

(b). Karena Ki Gede Sidowayah berjasa besar yaitu menyelamatkan garwo selir R. Wijaya yang sedang mengandung hingga melahirkan dengan selamat. Untuk menjaga kerahasiaan tersebut Ki Gede Sidowayah diberi hadiah tanah perdikan yang letaknya sangat jauh dari Lamongan yaitu di Songgoriti Malang. Sebab jika diketahui bahwa R. Wijaya punya anak laki – laki selain Kalagamet, maka bias timbul masalah besar dalam proses pergantian raja sepeninggalan R. Wijaya nanti. Mungkin kedua inilah yang agak lebih mendekati kebenaran.

5. Peristiwa Tanca tahun 1.328 M (Bhasmi bhuto nangani ratu = 1250 C)

Dalam Pararaton disebutkan selama Ra Tanca menjalankan tugas pengobatan terhadap raja Jayanegara Gajah Mada mengawasinya, begitu Tanca membunuh Jayanegara maka Gajah Mada langsung membunuh Ra Tanca

Dalam Pararaton tersebut dengan jelas mengatakan kalau Jayanegara meninggal karena dibunuh oleh Ra Tanca, kemudian Ra Tanca langsung dibunuh oleh Gaja Mada tanpa proses pengadilan. Kita semua sependapat jika Ra Tanca membunuh Jayanegara karena sakit hati sebab istrinya pernah diganggu oleh Jayanegara. Tapi mengapa Ra Tanca langsung dibunuh oleh Gaja Mada tanpa proses pengadilan? Tidak ada orang mempermasalahkan .

Kalau kita memperhatikan cerita rakyat Ngimbang tentang Joko Modo, sangat mungkin bahwa peristiwa pembunuhan Jayanegara oleh Ra Tanca adalah hasil skenario Gajah Mada sendiri. Sebab ibunda Gajah Mada Yaitu Dewi Andong Sari dilenyapkan dari istana oleh ibunda Jayanegara yaitu Dara Petak. Peristiwa itu tentu sangat menyakitkan hati Gajah Mada, sehingga timbullah niat balas dendam yaitu melenyapkan Jaya negara melalui tangan Ra Tanca, setelah itu Ra Tanca langsung dibunuhnya untuk menutup rahasia selamanya.

6. Peristiwa Bubat tahun 1357 M (Sanga Turangga Paksa Wani = 1279 C)

Ketika raja Hayam Wuruk sudah cukup dewasa untuk menikah, maka dikirimkan ke segala penjuru untuk mencari wanita yang paling cantik, segala lukisan yang dikirimkan ke Majapahit tidak ada yang menarik kecuali lukisan putri Sunda yaitu “ Diyah Pitaloka“. Maka dipinanglah Diyah Pitaloka untuk menjadi permaisuri Raja Hayam Wuruk.

Pada saat upacara pernikahan terjadilah beda pendapat antara Gajah Mada dengan keluarga pihak pengantin putrinya yaitu : Gajah Mada menghendaki agar raja Sunda menyerahkan putrinya kepada Raja Majapahit sebagai upeti, sedang raja Sunda menghendaki upacara pernikahan sebagaimana mestinya, yaitu putrinya harus dijemput oleh keluarga Majapahit denga upacara pernikahan sebagaimana biasanya.

Beda pendapat tersebut tidak dapat diselesaikan maka terjadilah perang yang mengakibatkan terbunuhnya semua orang Sunda termasuk calon permaisuri yaitu Diyah Pitaloka. Peristiwa tersebut terjadi di lapangan Bubat karena itu dinamakan perang Bubat dan terjadi tahun 1256 C /tahun 1357 M. Peristiwa Bubat tersebut jelas kesalahan besar Gajah Mada, akibat tindakan Gajah Mada tersebut tidak saja berakibat gagalnya pernikahan Hayam Wuruk tapi juga meninggalnya calon permaisuri Diyah Pitaloka beserta keluarga pengiringnya Karena kesalahan itu kemudian Gajah Mada diberi sanksi yaitu dibebas tugaskan selama 2 (dua) tahun (1357 1359 M).

Mengapa kesalahan Gajah Mada yang begitu besar terhadap raja hanya mendapat hukuman ringan? Mengapa pula Gajah Mada terlibat begitu dalam soal pernikahan Hayam Wuruk? Banyak kemungkinan untuk menjawabnya, diantara jawaban itu ialah: Hayam Wuruk tahu bahwa Gajah Mada itu pamanya sendiri. Hal ini terjadi karena Gajah Mada adalah adik ibunda Hayam Wuruk (Diyah Tribhuwana Tungga Dewi) satu ayah lain ibu. Gajah Mada anak R. Wijaya dari istri selir (Dewi Andongsari), sedangkan Diyah  anak R. Wijaya dari permaisuri Gayatri.

7. Gajah Mada tidak mau kudeta terhadap kekuasaan Hayam Wuruk

Pada saat Hayam Wuruk dinobatkan sebagai Raja, ia baru berusia 17 tahun. Segala urusan pemerintahan diserahkan kepada Gajah Mada. Bahkan sejak masa pemerintahan ibunda hayam Wuruk yaitu Tribhuwana Tungga Dewi urusan pemerintahan seolah diserahkan sepenuhnya kepada Gajah Mada.

Keadaan seperti itu sangat memungkinkan jika Gajah Mada mau kudeta, dalam arti Gajah Mada mau kudeta maka tidak akan ada hambatan yang berarti. Lalu timbul pertanyaan mengapa Gajah Mada tidak melakukan kudeta? banyak kemungkinan untuk menjawab, diantaranya jawaban itu ialah : “karena raja Hayam Wuruk masih Keponakan Gajah Mada sendiri “.

***

(2) Beberapa Pendapat dan Dugaan lain berkaitan Asal-Usul Gajah Mada

Berikut ini penulis tampilkan ringkasan artikel berkaitan dengan asal-usul Gajah Mada. Beberapa pendapat menyatakan bahwa Gajah Mada berasal dari Sumatera, Bali, Kalimantan, NTB dan Mongol.

1. Versi Sumatera

Seperti kita kita ketahui bersama, jaman dahulu nama orang identik atau disimbolkan dengan nama-nama hewan. Raja Majapahit yang terkenal, H(ayam) Wuruk sendiri mempunyai arti ayam jantan. Beberapa nama hewan yang biasa dipakai antara lain : Mahesa(Sapi), Lembu, Kebo, Banyak (Angsa) dll.

  • Menurut Nagarakretagama, Mahesa Cempaka memiliki anak Dyah Lembu Tal yang diberi gelar Dyah Singhamurti dan kemudian menurunkan Raden Wijaya.
  • Ronggolawe, adalah putera Ario Banyak Wide alias Ario Wiraraja bupati Sumenep yang membantu Raden Wijaya saat dikejar-kejar tentara JayaKatwang.
  • Mahesa Anabrang, atau juga disebut dengan nama Kebo Anabrang dan Lembu Anabrang, adalah seorang mantan senapati Singasari (Ketua Ekspedisi Pamalayu) yang membunuh Ranggalawe, pada saat Ranggalawe memberontak pada Majapahit.
  • Dara Petak (harafiah berarti “Merpati Putih”) adalah istri kelima dari Raden Wijaya, merupakan putri dari Raja Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa dari Kerajaan Dharmasraya. Dari perkawinannya dengan Raden Wijaya, Dara Petak melahirkan seorang putra yaitu Kalagemet atau Sri Jayanegara yang menjadi penerus tahta ayahnya di Majapahit.

Diantara nama-nama yang menghiasi perjalanan sejarah Majapahit, bahkan kerajaaan sebelumnya ataupun sesudahnya nama-nama seperti itulah yang populer dipakai oleh golongan bangsawan maupun rakyat biasa. Karena hewan-hewan itu ada di lingkungan mereka. Kecuali untuk nama hewan gajah, kita hanya mendapati satu nama, yaitu Gajah Mada. Berangkat dari sinilah kalau Gajah Mada bukan orang Jawa. Satu-satunya pulau di Indonesia yang ada gajahnya adalah Sumatra. Yang pusat koservasinya ada di Way Kambas, Jambi. Dan kalau dilihat dari catatan sejarah, ada benang merah yang dapat ditarik.

Seperti tulisan diatas, Dara Petak berasal dari Kerajaan Dharmasraya. Kerajaan ini lokasinya ada di Sumatra, yang dapat disampaikan sebagai berikut :

  • Kerajaan Dharmasraya atau Kerajaan Melayu Jambi adalah kerajaan yang terletak di Sumatra, berdiri sekitar abad ke-11 Masehi. Lokasinya terletak di selatan Sawahlunto, Sumatera Barat sekarang, dan di utara Jambi.
  • Hubungan antara Mahesa (Kebo) Anabrang, Dara Petak, Dara Jingga,  dan Jayanegara

Diduga kuat Mahesa Anabrang ini adalah orang yang sama dengan tokoh yang dikenal sebagai Adwaya Brahman atau Adwayawarman, ayah dari Adityawarman yang disebutkan dalam Prasasti Kuburajo I di Kuburajo, Limo Kaum, dekat Batusangkar, Sumatera Barat. Menurut pembacaan Prof. H. Kern yang diterbitkan tahun 1917, tertulis bahwa batu prasasti itu “dikeluarkan oleh Adityawarman, yang merupakan putra dari Adwayawarman dari keluarga Indra. Dinyatakan juga bahwa Adityawarman menjadi raja di Kanakamedini (Swarnadwipa)“.

Dara Jingga adalah putri dari Tribuanaraja Mauliawarmadewa, raja Kerajaan Dharmasraya dan juga merupakan kakak kandung dari Dara Petak. Dara Jingga memiliki sebutan sira alaki dewa — dia yang dinikahi orang yang bergelar dewa — dinikahi oleh Adwaya Brahman, pemimpin Ekspedisi Pamalayu.

Nama tokoh ini juga ditemukan pada prasasti yang tertulis di alas arca Amoghapasa, yang ditemukan di Padang Roco, dekat Sei Langsat, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Menurut pembacaan R. Pitono, tertulis bahwa arca itu adalah hadiah perkawinan Kertanagara kepada seorang bangsawan Sumatera, dan “bersama dengan keempat belas pengiringnya dan saptaratna, dibawa dari Bhumi Jawa ke Swarnnabhumi” dan bahwa “Rakyan Mahamantri Dyah Adwayabrahma” adalah salah seorang pengawal arca tersebut.

Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga beserta keluarganya dan Dara Petak kembali ke Pulau Jawa untuk menemui Kertanegara, raja yang mengutusnya. Setelah sampai di Jawa, ia mendapatkan bahwa Sang Kertanegara telah tewas dan Kerajaan Singasari telah musnah oleh Jayakatwang, raja Kediri.

Oleh karena itu, Dara Petak, adik Dara Jingga kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet atau Sri Jayanegara, raja Majapahit ke-2. Dengan kata lain, raja Majapahit ke-2 adalah keponakan Mahesa Anabrang dan sepupu Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung.

Berdasarkan catatan-catatan diatas, dapat disimpulkan saat Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Petak dari Sumatra ke Jawa, Gajah Mada termasuk dalam rombongan tersebut yang bertugas untuk mengawal keselamatan putri raja mereka sekaligus sebagai duta dari Kerajaan Darmasraya. Atau malah Gajah Mada ditugaskan secara khusus untuk menjadi pengawal pribadi Dara Petak. Yang akhirnya tinggal dan menetap di Majapahit mengikuti tuannya yang menjadi permaisuri raja Majapahit.

2. Versi Malang

Muhammad Yamin didalam bukunya yang berjudul Gajah Mada, Balai Pustaka, cetakan ke  6, Tahun 1960, hal 13 mengungkapkan tokoh ini sebagai:

“Diantara sungai brantas yang mengalir dengan derasnya menuju kearah selatan dataran Malang dan dikaki pegunungan Kawi-Arjuna yang indah permai,maka disanalah nampaknya seorang-orang indonesia berdarah rakyat dilahirkanpada permulaan abad ke-14.

Ahli sejarah tidak dapat menyusur hari lahirnya dengan pasti: ibu bapak dan keluarganya tidak dapat perhatian kenang-kenangan riwayat: Begitu juga nama desa tempat dia dilahirkan dilupakan saja oleh penulis keropak jaman dahulu asal usul gajah mada semua dilupakan dengan lalim oleh sejarah”

Jadi jelaslah menurut Muhammad Yamin, asal-usul Gajah Mada masih sangat gelap, walaupun ada dugaan bahwa Gajah Mada dilahirkan di aliran sungai Brantas yang mengalir keselatan diantara kaki gunung Kawi-Arjuna, diperkirakan sekitar tahun 1300 M.

3. Versi Bali

Keinginan untuk mengetahui asal-usul Patih Gajah Mada sebagai Negarawan besar pada Jaman Kerajaan Majapahit, telah lama menarik perhatian ahli sejarah, salah satunya I Gusti Ngurah Ray Mirshaketika mengadakan Klasifikasi Dokumen Lama yang berbentuk Lontar-lontar pada “perpustakaan Lontar Fakultas Sastra, Universitas Udayana” (sekitar tahun 1974. Salah satu lontar yang menarik perhatian diantaranya adalah lontar yang berjudul “Babad Gajah Maddha”. Lontar tersebut memakai kode: Krop.7, Nomer 156, Terdiri dari 17 Lembar lontar berukuran 50×3,5 cm, ditulisi timbal balik, setiap halaman terdiri atas 4 baris, memakai huruf dan bahasa Bali-Tengahan.

Lontar tersebut adalah merupakan Salinan sedangkan yang asli belum dapat dijumpai. Secara garis besar lontar babad Gajah Maddha tersebut berisikan

1. Asal Usul Gajah Mada

2. Gri Kresna Kapakisan dalam hubungannya dengan raja-raja Majapahit

3. Emphu keturunan pada waktu memerintah di Bali

Yang menjadi perhatian dari sekian lontar tersebut dan dapat dijadikan penelitian lebih lanjut adalah bagian yang menjelaskan tentang Asal-Usul/Kelahiran sang Maha Patih Gajah Mada.

“Tersebutlah Brahmana Suami-Istri di wilwatikta, yang bernama Curadharmawysa dan Nariratih, keduanya disucikan (Diabhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat. Setelah disucikan lalu kedua suami istri tersebut diberi nama Mpu Curadharmayogi dan istrinya bernama Patni Nuriratih. Kedua pendet tersebut melakukan Bharata (disiplin) Kependetaan yaitu :Sewala-brahmacari” artinya setelah menjadi pendeta suami istri tersebut tidak boleh berhubungan sex layaknya suami istri lagi.
Selanjutnya Mpu Curadharmayogi mengambil tempat tinggal (asrama) di Gili Madri terletak di sebelah selatan Lemah Surat, Sedangkan Patni Nariratih bertempat tinggal di rumah asalnya di wilatikta, tetapi senantiasa pulang ke asrama suaminya di gili madri untuk membawa santapan,dan makanan berhubungan jarak kedua tempat tinggal mereka tidak begitu jauh.

Pada suatu hari Patni Nariratih mengantarkan santapan untuk suaminya ke asrama di gili madri, tetapi sayang pada saat hendak menyantap makanan tersebut air minum yang disediakan tersenggol dan tumpah (semua air yang telah dibawa tumpah), sehingga  Mpu Curadharmayogi mencari air minum lebih dahulu yang letaknya agak jauh dari tempat itu arah ke barat. Dalam keadaan Patni Nariratih  seorang diri diceritakan timbulah keinginan dari Sang Hyang Brahma untuk bersenggama dengan Patni Nariratih. Sebagai tipu muslihat segerah Sang Hyang Brahma berganti rupa (berubah wujud, ”masiluman”) berwujud seperti Mpu Curadharmayogi sehingga patni Nariratih mengira itu adalah suaminya.

Segera Mpu Curadharmayogi palsu (Mayarupa) merayu Patni Nariratih untuk melakukan senggama, Tetapi keinginan tersebut ditolak oleh Patni Nariratih,oleh karena sebagai pendeta sewala-brahmacari sudah jelas tidak boleh lagi mengadakan hubungan sex,oleh karena itu Mpu Curadharmayogi palsu tersebut memperkosa Patni Nariratih.
Setelah kejadian tersebut maka hilanglah Mpu Curadharmayogi palsu, dan datanglah Mpu Curadharmayogi yang asli (Jati). Patni Nariratih menceritakan peristiwa yang baru saja menimpa dirinya kepada suaminya dan akhirnya mereka berdua menyadari, bahwa akan terdjadi suatu peristiwa yang akan menimpa meraka kelak.kemudian ternyata dari kejadian yang menimpa Patni Nariratih akhirnya mengandung.

Menyadari hal yang demikian tersebut mereka berdua lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan asrama itu, mengembara ke hutan-hutan ,jauh dari asramanya tidak menentu tujuannya,hingga kandungan patni Nariratih bertambah besar. Pada waktu mau melahirkan mereka sudah berada didekat gunung Semeru dan dari sana mereka menuju kearah Barat Daya, lalu sampailah disebuah desa yang bernama desa Maddha. Pada waktu itu hari sudah menjelang malam dan Patni Nariratih sudah hendak melahirkan, lalu suaminya mengajak ke sebuah “Balai Agung” yang etrletak pada kahyangan didesa Maddha tersebut.

Bayi yang telah dilahirkan di bale agung itu, segera ditinggalkan oleh mereka berdua menuju ke sebuah gunung. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa didesa Maddha,lalu oleh seorang patih terkemuka di wilatikta di bawa ke wilatikta dan diberi nama “Maddha”.

4. Versi Kalimantan

Ada pula yang meyakini Gajah Mada itu merupakan orang Dayak, Kalimantan Barat, yaitu dari sebuah kampung di Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sebagian masyarakat Dayak mempercayai hal ini berkaitan dengan kisah masyarakat Dayak Tobag, Mali, Simpang dan Dayak Krio. Tokoh Gajah Mada di Dayak Krio dikenal dengan nama Jaga Mada, namun masyarakat Dayak lainnya menyebutnya Gajah Mada, seorang Demung Adat yang mempunyai tugas mempersatukan nusantara.

5. Versi Nusa Tenggara Barat

Masyarakat Bima khususnya Dompu percaya kalau Gajah Mada berasal dari daerah ini, mengingat kemiripan dengan tokoh legenda masyarakat Dompu yaitu “ombu Mada Roo Fiko”. Ombu artinya Tuan, Mada artinya saya, Roo artinya telinga dann Fiko artinya lebar. Jadi ditafsirkan sebagi Tuan Mada bertelinga lebar (seperti gajah). Di daerah ini juga terdapat kuburan kuno yang diyakini sebagai makam Gajah Mada.

6. Versi Mongol

Ada yang mengatakan bahwa Gajah Mada merupakan perwakilan atau utusan tersamar Dinasti Yuan dari daratan Cina. Menurut seorang dosen Fisipol UGM, kota Trowulan yang merupakan pusat kerajaan Majapahit, jika dipindai dengan tekno remote sensing, maka akan nampak ada kanal-kanal yang disiapkan untuk jalur menuju laut.

LAIN-LAIN

A. Bunyi sumpah Palapa:

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa”

“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat”

B. Bendera Majapahit: Merah Putih (bergaris)

bendera majapahit_merah putih bergaris

C. Lambang/Simbol Kerajaan: Surya Majapahit

lambang kerajaan Surya_Majapahit

D. Peta Wilayah Kekuasaan Majapahit:

peta wilayah kekuasaan majapahit

***

EPILOG:

Tulisan ini sama sekali tidak bertendensi pada pengklaiman terhadap sosok Gajah Mada berdasarkan wilayah, etnisitas, dan apalagi golongan atau orang tertentu. Sampai detik ini, segala legenda, mitos, maupun dugaan masih belum bisa menyingkap tabir asal-usul Gajah Mada. Yang jelas, Gajah Mada adalah sejarah Indonesia, dan oleh sebab itu sudah menjadi bagian integral bangsa ini; menjadi milik Indonesia.

Penulis menutup tulisan ini dengan mengutip sepenggal tulisan di buku karangan Langit Kresna Hariadi:

“Dengan kebebasan yang aku miliki, aku bisa berada di mana pun dalam waktu lama tanpa harus terganggu oleh keinginan pulang. Lebih dari itu, aku berharap apa yang kulakukan itu akan menyempurnakan pilihan akhir hidupku dalam semangat hamukti moksa. Biarlah orang mengenangku hanya sebagai Gajah Mada yang tanpa asal-usul, tak diketahui siapa orang tuanya, tak diketahui di mana kuburnya, dan tak diketahui anak turunnya. Biarlah Gajah Mada hilang lenyap, moksa tidak diketahui jejak telapak kakinya, murca berubah bentuk menjadi udara.” (Gajah Mada Madakaripura Hamukti Moksa, Langit Kresna Hariadi, 2007).

*

Catatan: untuk download versi pdf, silahkan klik di sini>>>…

Thank you for visiting

www.haarrr.wordpress.com

education for all; education for a better life

About these ads

25 responses to “Legenda Asal-Usul Gajah Mada dari Lamongan

  1. gajah mada berasal dari lampung
    karena makam gajah mada berada dilampung tepatnya di gunung pesagi lampung barat
    ini terbukti ketika megawati menjadi presiden 3 jabatan strategis yaitu pangkostrad,ksad dan panglima abri pernah dijabat oleh satu orang yang bernama ryamizard ryacudu yang berasal dari lamping

  2. AKAN SAYA KUNJUNGI.KUNJUNGI JUGA ” [color=cyan]http://forum.nizarmodo.co.cc[/color] ” :bounce: :bounce:

  3. Beda persepsi itu biasa, apalagi kaitannya dengan sejarah. Sangat wajar dan lumrah. Yang penting jangan mengklaim pendapat pribadi yang paling benar.

  4. secara logika dia orang jateng jatim,,,karena dia setia sama daerah itu,,klo dia dr daerah lain dia pasti akan berjuang di daerah itu,toh dia perang membela majapahit,berati dia orang majapahit

  5. Metode penelitian sejarah adalah metode atau cara yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian peristiwa sejarah dan permasalahannya. Dengan kata lain, metode penelitian sejarah adalah instrumen untuk merekonstruksi peristiwa sejarah (history as past actuality) menjadi sejarah sebagai kisah (history as written). Dalam ruang lingkup Ilmu Sejarah, metode penelitian itu disebut metode sejarah. Metode sejarah digunakan sebagai metode penelitian, pada prinsipnya bertujuan untuk menjawab enam pertanyaan (5 W dan 1 H) yang merupakan elemen dasar penulisan sejarah, yaitu what (apa), when (kapan), where (dimana), who (siapa), why (mengapa), dan how (bagaimana). Pertanyaan-pertanyaan itu konkretnya adalah: Apa (peristiwa apa) yang terjadi? Kapan terjadinya? Di mana terjadinya? Siapa yang terlibat dalam peristiwa itu? Mengapa peristiwa itu terjadi? Bagaimana proses terjadinya peristiwa itu?.
    Dalam bidang sejarah, topik penelitian harus memenuhi beberapa persyaratan.
    a) Topik itu harus menarik (interesting topic), dalam arti menarik sebagai obyek penelitian. Dalam hal ini termasuk adanya keunikan (uniqueness topic).
    b) Substansi masalah dalam topik harus memiliki arti penting (significant topic), baik bagi ilmu pengetahuan maupun bagi kegunaan tertentu.
    c) Masalah yang tercakup dalam topik memungkinkan untuk diteliti (manageable topic). Persyaratan ini berkaitan dengan sumber, yaitu sumber-sumbernya dapat diperoleh. Meskipun topik sangat menarik dan memiliki arti penting, namun bila sumber-sumbernya, khususnya sumber utama tidak diperoleh, masalah dalam topik tidak akan dapat diteliti. Oleh karena itu calon peneliti harus memiliki wawasan luas mengenai sumber, khususnya sumber tertulis.

    Sumber :
    http://resources.unpad.ac.id/unpad content/uploads/publikasi_dosen/metode_penelitian_sejarah.PDF

    Kalau masalah umur Gajah Mada saat menjabat, itu masalah kesempatan saja yang baru didapat. Setelah lama menjadi komandan pasukan Bhayangkara mengawal Jayanegara. Kesempatan datang saat terjadi pemberontakan yang mengancam Jayanegara. Gajah Mada berhasil menumpas pemberontak tersebut dan akhirnya diangkat menjadi Patih bahkan Mahapatih. Contoh yang lain kita angkat pada zaman modern. Usia produktif Pesepakbola dibawah 30an. Namun Christian Gonzales (34 tahun) pesapakbola Indonesia berdarah Uruguay masih berprestasi di tim nas Indonesia saat dia dipanggil membela Indonesia. Christian Gonzalespun menjadi bintang selain gol-golnya juga andilnya terhadap gol setiap pertandingan piala Aff 2010. Mengapa Christian baru bisa berprestasi ditim nas Indonesia saat diusia sudah tua karena masalah kesempatan. Kesempatan yang baru dia dapat saat usianya 34 tahun pada saat dia telah bersatus kewarganegaraan Indonesia dan Presetasinya juga menonjol sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Super Indonesia 4 kali berturut-turut.
    Kembali ke Gajah Mada, Begiu juga dengan Gajah Mada. Kesempatan yang didapat saat usianya sdh tua, saat prestasinya diakui Majapahit menumpas pemberontakan dan menyelamatkan Raja Jayanegara.

  6. BENARKAH GAJAH MADA ORANG SUMATERA???

    Majapahit mengalami kejayaan saat jabatan Mahapatih dipegang oleh Gajah Mada, dan Majapahit mengalami kemunduran setelah ditinggal oleh Gajah Mada Apalagi setelah wafatnya Raja Hayam wuruk. Kehebatan Gajah Mada meninggalkan misteri tentang sejarah dirinya, didalam Nagarakretagama dan Pararaton tidak ada yang mengungkapkan tentang sejarah diri Gajah Mada. Misteri itu mulai ungkapkan dikalangan tertentu. Seperti diungkapkan oleh sebagian masyarakat Melayu yang mengatakan bahwa Gajah Mada merupakan anak dari Dara Petak.[1] Cerita tersebut belum terlalu kuat kebenarannya. Menurut kepercayaan masyarakat Bali yang tertulis dalam kitab Usana Djawa, Gajah Mada dilahirkan di pulau Bali Agung dan pada suatu ketika berpindah ke Majapahit. Gajah Mada tidak mempunyai Ibu dan Ayah, melainkan terpancar dari dalam buah kelapa sebagai penjelmaan Sang Hiang Narajana ke atas dunia[2]. Menurut Mohammad Yamin, menduga bahwa Gajah Mada dilahirkan di aliran sungai Brantas yang mengalir keselatan diantara kaki gunung Kawi-Arjuna.[3] Cerita rakyat Lamongan mengisahkan bahwa Gajah Mada adalah anak kelahiran Desa Mada (sekarang Kecamatan Modo, Lamongan). Di wilayah Lamongan bernama Pamotan.[4]

    Patung Gajah Mada
    Siapa sebenarnya Gajah Mada? Pada tahun 1285 raja Kertanegara mengirimkan utusan ke Kerajaan Sriwijaya dibawah pimpinan Kebo Anabrang dan Mahapatih Singosari Adityawarman membawa piagam Amoghapaca dan menawarkan (melamar) pernikahan kepada kepada dua putri kerajaan Sriwijaya yang dikenal dengan sebutan Pamalayu, karena hadiah tersebut Sri Maharaja srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa dan segenap rakyat Sriwijaya sangat gembira.

    Chu-fan-chi yang disusun pada masa dinasti Sung (960 – 1279) menyebutkan wilayah kekuasaan Kemaharajaan Melayu yang pusat kekuasaannya di Dharmasraya terdiri :

    1) Pong-fong (Pahang)

    2) Tong-ya-nong (Terengganu)

    3) Ling-ya-si-kia (Langkasuka)

    4) Ki-lan-tan (Kelantan)

    5) Fo-lo-an (Selangor Selatan)

    6) Ji-lo-ting (Jelotong)

    7) Ts’ien-mai (Seumawe)

    8) Pa-t’a (Batak)

    9) Tan-ma-ling (Tamralingga)

    10) Kia-lo-hi (Grahi)

    11) Pa-lin-fong (Palembang)

    12) Sin-to (Sunda)

    13) Kien-pi (kampai)

    14) Lan-mu-li (Lamuri)[5]

    Kemudian para utusan dari Kerajaan Singosari kembali ke tanah Jawa dengan membawa dua orang putri Melayu yakni Dara Petak dan Dara Jingga yang merupakan putri-putri dari Maharaja Sriwijaya Trailokya Maulibhusanawarmadewa. Perjalanan ke Jawa sangat jauh dan berbahaya apalagi dua putri Maharaja tersebut dibawa oleh orang-orang yang belum dikenal dengan baik oleh mereka. Maharaja memerintahkan beberapa orang prajurit tangguh untuk mengawal kedua putri tersebut diantaranya adalah Gajah Mada yang masih masih berusia muda.

    Gajah Mada bukan nama yang sebenarnya, itu hanya sebuah julukan atau gelar yang diberikan kerajaan. Dahulu Maharaja Melayu selalu memberi julukan atau nama kehormatan untuk para prajurit-parajurit terbaik mereka dan selalu menggunakan nama-nama binatang seperti Harimau Campo, Kucing, Kambing Hutan, Anjing Mualim, Gajah Tongga Ada juga dengan dengan sebutan si Binuang, Sigumarang, Si Kinantan, Si Kumbang dan banyak lainnya.[6] Pemberian gelar tersebut masih dilaksanakan sampai saat ini bagi orang-orang yang berjasa untuk Negara. Nama-nama kehormatan itu selalu mempunyai arti dan makna begitu juga dengan sebutan Gajah Mada. Mada dalam bahasa Melayu dialek Minangkabau diartikan sebagai Bandel atau tidak bisa diatur, Jadi Gajah Mada itu maksudnya binatang yang berbadan besar yang tidak bisa diatur atau Gajah Bandel. Ketangguhan dan kesetiaan Gajah Mada dan rekan-rekannya terhadap kerajaan sudah diakui sehingga mereka mendapat kepercayaan untuk mengawal putri-putri kerajaan ke Tanah Jawa.

    Sampai di tanah Jawa mereka tidak menemukan lagi Kerajaan Singosari dan Kertanegarapun telah meninggal dunia. Pada saat itu telah berdiri kerajaan baru yang bernama Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya (Kertajasa Jayawardhana). Raden Wijaya memperistrikan Dara Petak yang kemudian melahirkan Raja Majapahit berikutnya yakni Jayanegara dan Dara Petak mendapatkan posisi sebagai Permainsuri kerajaan Majapahit, sedangkan Dara Jingga diperistri oleh Mahapatih Dyah Adwayabhrahma yang melahirkan Adityawarman yang kelak menjadi Maharaja tanah Melayu. Semasa Dara Petak menjadi Permaisuri dan Jayanegara sebagai putra Mahkota Majapahit, Gajah Mada dipercaya sebagai prajurit istana (Bhayangkara) yang mengawal mereka. Dahulu seorang prajurit istana atau pengawal keluarga kerajaan merupakan orang terdekat dan bisa dipercaya. Dikarenakan Gajah Mada yang sejak awal sudah dipercaya oleh Kerajaan Melayu/Sriwijaya untuk mengawal putri Dara Petak hingga pada masa di Majapahit dipercaya untuk memimpin prajurit Bayangkara yang mengawal Dara Petak beserta putranya.

    Pada tahun 1309, Raja Kertajasa Jayawardhana meninggal dunia, yang kemudian posisi Raja digantikan oleh Jayanegara. Naiknya Jayanegara dapat pertentangan dari berbagai kalangan di Istana Majapahit termasuk patih Nambi dan Wiraraja dikarenakan Jayanegara adalah keturunan Melayu dan bukan keturunan asli Singosari. Maka terjadilah pemberontakan keduanya, yang akhirnya dapat dipadamkan. Ketidakpuasan didalam istana berlanjut, terjadi pemberontakan Kuti dan Semi. Bermula dari peristiwa inilah, Karir Gajah Mada naik setelah dia berhasil menyelamatkan Raja Jayanegara dari serangan Kuti dan Semi. Kemudian Gajah Mada juga berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Atas jasanya itu, Gajah Mada di angkat menjadi Patih Kahuripan dan dua tahun kemudian dipercaya sebagai Patih Kediri.

    Terjadi suatu peristiwa pembunuhan Raja Jayanegara oleh tabib Kerajaan yang bernama Tanca. Pada saat Raja sedang mengalami sakit bisul seperti biasa Tanca dipanggil untuk mengobatinya tapi ternyata dibalik itu ada maksud untuk menyingkirkan Raja Jayanegara. Dalam Penjagaan oleh Gajah Mada tanpa curiga akhirnya Tanca berhasil membunuh Raja Jayanegara. Dengan sangat terkejut, Gajah Mada Spontan menarik kerisnya dan menancapkan ketubuh Tanca hingga tewas. Peristiwa Tanca ini merupakan bagian dari pertentangan dan ketidaksenangan dalam istana kepada Raja Jayanegara. Sepeninggal Jayanegara, terjadi kekosongan kekuasaan.

    Akhirnya Gajah Mada mengangkat Putri Tribuanatunggadewi sebagai Ratu Majapahit dan bersama saudarinya Rajadewi memerintah Majapahit bersama-sama. Pengangkatan seorang wanita sebagai pemimpin Majapahit tidak masalah bagi Gajah Mada, dikarenakan dikampung halamannya seorang wanita atau ibu sangat dihormati (Bundo Kanduang). Karir Gajah Mada makin meningkat, setelah berhasil menaklukkan pemberontakan Keta dan Sadeng. Akhirnya Gajah Mada diangkat sebagai Patih Majapahit. Kemudian didepan Ratu Tribuanatunggadewi, Gajah Mada bersumpah untuk menaklukan Nusantara dibawah Kerajaan Majapahit dan sumpah tersebut dikenal dengan Sumpah Palapa.

    (Tonggak Gajak Mada). Konon saat mengucapkan Sumpah Palapa, Gajah Mada Menancapkan Tonggak ini
    Bersama dengan Adityawarman dan rekan-rekan lainnya, Gajah mada berhasil menaklukan Nusantara seperti Palembang, Tumasik (Singapura), Pulau Bintan, Aru/Barumun, Tanjung Pura, Pahang, dan sebagainya. Pada masa Hayam Wuruk, Gajah Mada memperluas taklukan seperti Pulau Seram, Bima, ambon, Buton, Sumba, Timor, Makasar dan sebaginya. Keberhasilan ini membuat Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Majapahit. Ada beberapa kerajaan yang belum takluk dalam kekuasaan Majapahit yakni Kesultanan Samudera/Pasai dan Kerajaan Sunda Galuh. Kerajaan terakhir ini, yang membuat karir Gajah Mada jatuh.

    Pada tahun 1357, Hayam Wuruk yang telah menggantikan ibunya sebagai penguasa Majapahit, ada keinginan untuk berusaha menundukan kerajaan Sunda Galuh dengan cara perkawinan. Hayam Wuruk melamar putri dari Maharaja kerajaan Sunda Galuh yang bernama Dyah Pitaloka. Pada saat acara lamaran berlangsung, Gajah Mada mempunyai keinginan kerajaan Sunda Galuh menggabungkan diri dan menjadi kerajaan bawahan Majapahit. Gajah Mada telah banyak belajar dari sejarah Majapahit, seperti yang dilakukan Kerajaan Melayu/Sriwijaya yang telah menerima lamaran raja Kertanegara dari Singosari dan mengizinkan salah satu putrinya menjadi istri raja Kertanegara walaupun akhirnya putri Dara Petak menikah dengan Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Kertanegara yang merupakan pendiri Kerajaan Majapahit yang mengaku sebagai penerus Kerajaan Singosari.

    Keinginan Gajah Mada tidak disambut dengan baik pihak Kerajaan Sunda Galuh, hingga terjadi perang bubat yang mengakibatkan tewasnya rombongan pengantin termasuk Maharaja Sunda Galuh dan akibatnya lagi, putri Dyah Pitaloka yang mengetahui kejadian ini akhirnya bunuh diri. Hayam Wuruk marah dan memecat Gajah Mada sebagai Mahapatih, kejadian itu berlangsung selama dua tahun. Tidak ada yang bisa mengantikan kepiawaian Gajah Mada dalam memimpin kepatihan Majapahit dan akhirnya Gajah diangkat kembali walaupun kekuasaannya sudah dibatasi.

    Pada tahun 1364, keinginan Gajah Mada pulang ke kampung halaman untuk menghabiskan sisa hidupnya sangat besar, apalagi Adityawarman telah menjadi Maharaja Suwarnabhumi. Seperti pepatah Melayu mengatakan Hujan Emas di negeri orang, Hujan Batu di negeri sendiri yang maksudnya seenek-enaknya hidup dinegeri lain lebih enak lagi menghabiskan hidup dinegeri sendiri. Penemuan kuburan yang diduga makam Mahapatih Gajah Mada di Bengkulu Utara memperkuat asal usulnya sebagai orang Melayu. Penemuan ini merupakan suatu bukti sejarah yang sangat berharga.[7] Sejarah Gajah Mada yang disamar-samarkan menjadi jelas.

    Sepeninggal Raja Hayam Wuruk dan Gajah Mada, terjadi pergolakan untuk memperebutkan tahta Raja. Tahta Raja Majapahit berikutnya dikuasai oleh Wikramawardhana yang merupakan keponakan dari Hayam Wuruk, sedangkan putra Hayam Wuruk yang bernama Wirabumi merasa berhak mendapatkan kedudukannya sebagai raja Majapahit. Pada tahun 1400, Wikramawardhana menyatakan mundur sebagai raja dan memberikan kekuasaan kepada anaknya Ratu Sugita. Hal ini membuat Wirabumi makin tidak senang, terjadilah pemberontakan selama bertahun-tahun. Untuk membantu putrinya memadamkan pemberontakan, Wikramawrdhana kembali dari pertapaannya yang akhirnya pemberontakan tersebut dapat dipadamkan dan menewaskan Wirabumi. Sejak saat itu, Majapahit kehilangan kewibawaannya dimata kerajaan bawahannya. Sehingga beberapa raja-raja bawahan menyatakan kemerdekaannya dari Majapahit.

    Jakarta, Fadly Rahman

    Sumber :

    [1] Basril Basyar dan Ampera Salim, Prosesi Penobatan SBY Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam, Website Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, 22 September 2006, Hal 4

    [2] Muhammad Yamin, Gajah Mada Pahlawan Nusantara, Penerbit Balai Pustaka, tahun 1953

    [3] http://www.igardu.com, Wied, Peradaban Nusantara, Gajah Mada, dari mana asalmu?, 17 Nopember 2007

    [4] Sujatmiko, Asal-usul Patih Gajah Mada asli Lamongan Diteliti, http://www.tempointeraktif.com, 22 juni 2009

    [5] Prof. DR. Slamet Muljana, Sriwijaya, Penerbit LKIS, Tahun 2006

    [6] Ampera Salim, Sejarah yang tercecer, Nagari tertua di Ranah Minang, http://www.sumbarprov.go.id, Hal 1

    [7] http://www.sinarharapan.co.id/berita/01017/23nus09.html, Diduga Makam Gaja Mada, Sinar Harapan, Senin 23 Juli 2001

    • Wah, senang dapat komen dari Pak Fadlyrahman, seorang entrepreneur muda berbakat, seorang yang multi-talenta.
      Sangat menarik menyimak analisa Pak Fadly. Sebagaimana saya sampaikan di bagian awal posting saya, penelusuran asal-usul Gajah Mada dari Sumatera sebenarnya merupakan pengembangan dari adanya pengkaitan nama Gajah Mada dengan istilah atau sebutan yang menjadi ciri khas lokalitas atau daerah tertentu. Gajah merupakan hewan khas Sumatera, sedangkan Mada dalam bahasa setempat diartikan nakal/bandel.
      Di Kalimantan, berkaitan dengan nama tokoh pemangku adat setempat: ‘Jaga Mada’.
      Di NTB, berkaitan dengan legenda tokoh ‘Ombu Mada Roo Fiko’.
      Di Jawa Timur, berkaitan dengan nama tempat/desa: (1) Desa Maddha di sekitar G. Semeru, yang merupakan pengembangan versi Bali. (2) Desa Modo, Lamongan, yang waktu mudanya Gajah Mada lebih dikenal sebagai Joko Modo (pemuda dari Modo). Untuk versi terahir ini telah dijabarkan di posting saya, termasuk juga tentang Ibu Gajah Mada dan tinjauan geografis. Nah, beberapa pendapat juga menyatakan ada keterkaitan dengan pengubahan bunyi “O” menjadi “A” dari Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia, seperti: Suroboyo-Surabaya, Mojopahit-Majapahit, Jowo-Jawa, Kalijogo-Kalijaga, demikian juga Gajah Modo-Gajah Mada.

      Kembali ke analisa Pak Fadly. Tentu hal utama dalam pencatatan sejarah adalah waktu terjadinya peristiwa. Ketika pada tahun 1285 Kertanegara mengirimkan utusan ke Sriwijaya (Melayu), pada saat itu, di Melayu, dinyatakan bahwa pemuda Gajah Mada telah menjadi pengawal putri kerajaan, Dara Petak. Dengan demikian Gajah Mada dilahirkan sekitar 15-20 tahun ke belakang, yaitu sekitar tahun 1270. Ini menjadi hal menarik, memunculkan kembali pertanyaan: apakah Gajah Mada dilahirkan Pada masa era Singosari (sebelum Majapahit), ataukah di awal berdirinya Majapahit? Jika mengacu pada versi P Fadly berarti ketika Majapahit berdiri, usia Gajah Mada sekitar 20 tahun. Berikutnya, Majapahit melakukan ekspansi besar-besaran di era pemerintahan Hayam Wuruk (1350), pada saat tersebut usia Gajah Mada telah 80-an? Tentu bukanlah usia yang produktif di mana pada masa itulah jaman kejayaan Gajah Mada.
      (referensi: wikipedia-majapahit)

      Hal lain berkaitan dengan nama Gajah… Meskipun gajah pada saat itu hanya ada di Sumatera, apakah menjadikan orang-orang di luar Sumatera tidak mengetahui tentang hewan tersebut? Para sejarawan sepakat bahwa ada ikatan/hubungan yang kuat antara Majapahit dengan kerajaan-kerajaan di Sumatera. Terjadi saling mengunjungi antara Majapahit dengan Sriwijaya/Pamalayu. Jadi penduduk Majapahit, dari mulut ke mulut, mengetahui cerita tentang tipikal hewan Gajah, di antaranya berbadan besar, sebutan yang sesuai dengan perawakan Gajah Mada. Selain itu, di setiap kerajaan biasanya memberikan gelar khusus kepada para tokoh-tokoh dari negara sahabat yang dianggap berjasa atau memiliki kemampuan luar biasa. Boleh jadi nama Gajah tersebut merupakan pemberian gelar buat tokoh Majapahit…

      Terlepas dari benar tidaknya semua versi asal-usul Gajah Mada, termasuk dari Sumatera, ada satu poin penting yang bisa ditarik dari sejarah Gajah Mada. Majapahit besar, dibangun dari adanya pluralisme. Pada masa di mana antar kerajaan dibangun berdasarkan kesamaan ras dan etnis, Majapahit telah menelurkan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah pemikiran yang sangat visioner melihat kondisi keberagaman nusantara. Konsep itu pun pastilah berdasarkan kenyataan bahwa di tubuh pemerintahan Majapahit sendiri diisi oleh orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda, bukan hanya etnis lokal.
      Jadi, bangsa yang besar bukan dibangun dari eksklusivisme tapi dari inklusivime dan pembagian kekuasaan yang berdasarkan pada kenyataan pluralisme.

      Terima kasih pencerahannya P Fadly. Saya tunggu komen-komen berikutnya. Semoga terus terlahir buku-buku dan karya-karya kritisnya… Sukses selalu.

      • Apakah pada jaman itu sudah ada kebun binatang kerajaan yg memuat berbagai binatang?
        Gajah juga menjadi kendaraan militer. Diimpor dari tempat asal Gajah.
        Termasuk Gajah, sehingga penduduk Jawa mengenal Gajah dari situ.

  7. mantab Pak, tulisan yang membuka alam pikiran dan khayal betapa indonesia pernah punya orang sehebat GAJAH MADA

  8. salam kenal pak,postingnya sangat bagus.bisa tambah wawasan.saya dulu murid smpn 1 tikung angkatan ’88.salam buat guru2 smpn 1 tikung

    • Terima kasih telah ber-silaturrahmi ke sini. Saya membayangkan, betapa hebohnya andaikata alumni SMPN 1 Tikung mengadakan reuni akbar, mulai angkatan 80-an sampai 2000-an. Pasti seru. Sayang ya… belum ada pionir-pionir alumnus SNeT yang mengkoordinasikannya.
      Salam, sukses selalu.

  9. salam kenal mas…, anda luarbiasa, salut deh TOP, kebetulan saya mencintai dan memaknai legenda sejarah bangsa Indonesia, utamanya yg bersumber dari tanah jawa, Simbah Gajahmada memang salah satu insan milik bangsa Indonesia yg luarbiasa : sakti, cerdas, tenang, dan yg paling utama watak dan jiwa kenegaraan beliau setau saya belum ada duanya di bumi Indonesia ini, meskipun ada juga karakter “nakal”, bravo buat anda yg bisa mengumpulkan ceritera secara jujur, selamat dan sukses selalu. Tuhan Memberkati Anda.

    • Makasih banyak telah menyempatkan diri berkunjung ke sini. Saya tetap beranggapan bahwa sebenarnya Indonesia adalah negara besar. Sayang sekarang ini kita tidak bisa merevitalisasikan kecermelangan masa lalu. Anda benar, Indonesia saat ini sangat membutuhkan negarawan sejati.
      Sukses selalu.

  10. dari cerita yang saya dengar , gajah mada berasal dari riau . tepatnya Pasirpengaraian kabupaten Rokan Hulu . dan kembali bersemayam di Pasirpengaraian . kalau dari bahasa riau ,, gajah mada : gajah artinya tetap gajah sedangkan mada artinya kuat, tahan banting , pantang menyerah. dan bahkan sampai berarti nakal. jadi Gajah Mada adalah seorang yang bertenaga kuat , tahan banting dan pantang menyerah . ini berasal dari bahasa Pasirpengaraian .

    konon kabarnya , dibangun nya lapangan terbang di pasir pengaraian okak, itu adalah untuk sarana presiden Suharto datang ke pasir pengaraian untuk menjemput pusaka atau keris dari peninggalan dari Patih Gajah Mada yang harus langsung di terima presiden Suharto .

    tapi cerita ini belum lah pasti kebenarannya . ini hanyalah cerita yang saya dengar sedangkan bukti otentik nya tidak lah ada .

  11. dari cerita yang saya dengar , gajah mada berasal dari riau . tepatnya Pasirpengaraian kabupaten Rokan Hulu . kalau dari bahasa riau ,, gajah mada : gajah artinya tetap gajah sedangkan mada artinya kuat, tahan banting , pantang menyerah. dan bahkan sampai berarti nakal. jadi Gajah Mada adalah seorang yang bertenaga kuat , tahan banting dan pantang menyerah . ini berasal dari bahasa Pasirpengaraian .

    konon kabarnya , dibangun nya lapangan terbang di pasir pengaraian okak, itu adalah untuk sarana presiden Suharto datang ke pasir pengaraian untuk menjemput pusaka atau keris dari peninggalan dari Patih Gajah Mada yang harus langsung di terima presiden Suharto .

    tapi cerita ini belum lah pasti kebenarannya . ini hanyalah cerita yang saya dengar sedangkan bukti otentik nya tidak lah ada .

    • Wah, saya bangga sekali atas kunjangan P Asa Bakti. Satu lagi perbendaharaan sejarah berkaitan asal usul Gajah Mada, dan ini dari Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Menarik. Terutama pada poin makna “Mada”. Sebaiknya Anda mengembangkan berita tersebut untuk kemudian bisa ditelaah para ahli sejarah. Saya sangat tertarik dengan versi ini, karena pasti cerita ini mengakar dan menjadi folklor masyarakat setempat, buktinya Presiden Soeharto sampai menyempatkan diri untuk mengambil pusaka tersebut.
      Saya tunggu artikel/komen Anda berikutnya.
      Sukses selalu.

  12. Hmm.. Complete, meskipun capek banget bacanya. Hehe..
    Saya sebenarnya juga nulis sedikit tentang Gajah Mada (belum share), tapi bukan tentang asal-usulnya.

    Bagi saya, ada pelajaran yang sangat berharga dari kisah Gajah Mada. Insya Allah nanti saya share dengan judul “Kesalahan Fatal Patih Gajah Mada”. Hehe..

    http://my.opera.com/Maslych/

  13. thanks bro tulisanya sangat bagus meski masih kurang referensinya, namun ini merupakan sesuatu yang bagus untuk mengawali pencarian. berikutnya saya juga tertantang untuk menggali lebih jauh tentang beberapa fakta maupun foklor sejarah yang tersembunyi di lamongan.
    berdekatan dengan wilayah cancing ngimbang juga terdapat sebuah foklor lokal mengenai legenda anglngdarma yang tentunya berada di dekat wilayah desa/kecamatan anda yaitu sekitar sambeng, juga mengenai peninggalan baju anglingdarma.
    di belahan utara muncul juga legenda tentang empu supa (seorang empu era majapahit) yang mendapat gelar pangeran sedayu dan tanah perdikan sendang sedayu. jika menyebut sedayu biasanya rujukan banyak orang adalah sedayu gresik, padahal sedayu gresik adalah sebuah kota yang baru lahir pada era belanda. kalau kita merujuk pada dokumen peta david rumsey maka terlihat bahwa sedayu (sidajoe) adalah sebuah wilayah yang berdekatan dengan wilayah tuban yakni sedayu lawas lamongan yang juga merupakan muara sungai kecil (SEKARANG DIJADIKAN SUDETAN BENGAWAN SOLO ‘FLOODWAY’)yang tembus ke bengawan solo.
    dari sungai kecil sedayu lawas yang menghubungkan laut utara dengan bengawan solo inilah beberapa sejarawan memperkirakan masuknya panglima perang cina dan pasukan china saat menyerang kediri dengan terlebih dahulu berkumpul di majapahit.
    http://chandikolo.net.tc
    salam warga Lamongan.

    • Terima kasih banyak telah meluangkan waktu berkunjung ke sini.
      Penelusuran sejarah zaman kerajaan kita sebagian besar memang berasal dari folklore. Kendalanya, terbentur pada minimnya peninggalan otentik semacam situs ataupun prasasti. Tapi secara substansial, timbulnya folklore tersebut tentu berakar pada adanya kejadian atau peristiwa di masa silam, yang karena memang masyarakat kita memiliki tradisi lisan, akhirnya secara turun-temurun menjadi cerita, legenda bahkan dongeng. Perdebatan kemudian muncul ketika ternyata ada banyak versi dan faktor minimnya bukti otentik. Terlepas dari hal tersebut, sebenarnya esensi dari penelusuran sejarah ialah merevitalisasi nilai-nilai luhur tradisionalisme untuk diaktualisasikan berdasarkan konteks ke-kini-an.
      Lamongan (dulu dikenal sebagai Pamotan), memiliki wilayah dengan status sebagai tanah perdikan (merdeka, bebas dari pajak).Banyak folklore di Lamongan terkait zaman Majapahit abad ke-13. Secara geografis memang masuk akal jika ditinjau dari letak pusat kerajaan di Trowulan. Demikian halnya dengan cerita Anglingdarma di wilayah Sambeng. Sayang belum banyak sejarawan lokal Lamongan yang melakukan penelitian lebih lanjut.
      Untuk pesisir utara Lamongan, sering dikenal sebagai benteng Maritim Majapahit. Jika Anda menyempatkan diri berkunjung ke, misalnya Sendang Dhuwur, Anda akan melihat bahwa tipikal geografis daerah tersebut mirip dengan benteng. Letak Lamongan sendiri berdampingan dengan Tuban–yang merupakan pelabuhan besar masa itu, yang juga diteruskan sampai era Demak.
      Wah… asyik juga cerita tentang sejarah.
      Jangan bosan berkunjung ke sini!!

  14. kyknya yg masuk akal gajahmada berasal dari jawa timur….jgn sampe diklaim malaysia lagi, salut buat lamongan

  15. salam, sy Agus Suhanto, tulisan yg bagus :) … salam kenal yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s